Vegan Tidak Selalu Sehat: Pentingnya Pilih Makanan dengan Bijak
JAKARTA - MEDIA POSITIF,
-
Makanan vegan ultra-olahan tetap dapat mengandung gula, garam, lemak jenuh, dan aditif berisiko kesehatan jantung.
-
Konsumsi buah, sayur, biji-bijian, dan kacang dari sumber utuh dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.
-
Diet vegan sehat perlu mengutamakan makanan utuh, mengurangi makanan kemasan, dan konsultasi ahli gizi.
Siapa sangka, makanan vegan ultra-olahan ternyata dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung.
Saat ini, semakin banyak orang yang beralih ke pola hidup vegan dengan mengonsumsi buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Namun, pola makan vegan yang tidak seimbang terutama jika didominasi makanan ultra-olahan dapat berisiko karena tetap mengandung rendah gizi dan nutrisi penting bagi tubuh.
Ketidakseimbangan ini dapat berdampak pada kesehatan jika tidak diatur dengan baik.
Hubungan antara makanan vegan ultra olahan dan kesehatan jantung
Penelitian menunjukkan bahwa pada orang dewasa usia 40–60 tahun, peningkatan 10% konsumsi makanan nabati dikaitkan dengan penurunan sekitar 20% risiko kematian akibat penyakit jantung erutama jika makanan tidak termasuk ultra - olahan.
Namun, jika peningkatan berasal dari makanan nabati ultra-olahan, justru ditemukan adanya peningkatan sekitar 12% risiko kematian akibat penyakit jantung.
Istilah “ultra-olahan” merujuk pada makanan yang melalui proses pengolahan tingkat tinggi dan mengandung berbagai bahan tambahan seperti aditif.
Misalnya, termasuk hotdog, kue, minuman bersoda, dan makanan siap saji.
Makanan vegan ultra-olahan sering dipromosikan sebagai “sehat” hanya karena berbasis nabati. Perlu dipahami bahwa makanan atau minuman berbasis tumbuhan tidak otomatis sehat.
Pilihan yang lebih baik dengan cara mengonsumsi makanan utuh seperti sayur, buah, biji-bijian, dan gandum utuh.
Diet vegan yang menyehatkan jantung
Sebaiknya Anda mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan untuk mendukung kesehatan jantung.
Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan asupan makanan utuh, memperbanyak buah dan sayur, serta lebih berhati-hati terhadap makanan kemasan.
Perlu diingat, makanan berlabel vegan tidak selalu sehat. Beberapa produk tetap dapat mengandung kadar lemak jenuh, garam, dan gula yang tinggi, sehingga penting untuk lebih selektif dalam memilih makanan vegan.
Anda juga dapat mencoba membuat makanan sendiri di rumah, seperti ubi jalar, cavolo nero, dan kacang hitam, untuk memastikan kualitas bahan yang dikonsumsi.
Jika Anda khawatir diet vegan tidak memenuhi kebutuhan nutrisi, bekerja sama dengan ahli gizi dapat membantu memastikan pola makan tetap seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh.
Kesimpulan
Penting dipahami bahwa makanan vegan tidak selalu otomatis sehat, terutama jika didominasi produk ultra-olahan.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan nabati yang berasal dari sumber utuh seperti buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.
Sebaliknya, makanan vegan ultra-olahan yang mengandung tambahan gula, garam, lemak jenuh, dan aditif, justru dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kesehatan, termasuk penyakit jantung
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa label “vegan” tidak otomatis berarti sehat. Kunci utama pola makan yang baik adalah keseimbangan, memilih makanan utuh, serta mengurangi makanan kemasan dan ultra-olahan.
Dengan perencanaan yang tepat dan bantuan ahli gizi jika diperlukan. Dengan perencanaan yang tepat dan dukungan ahli gizi bila diperlukan, diet vegan tetap bisa menjadi pola makan yang sehat dan aman untuk jantung.****
Vegan diets: Helpful or harmful for heart health?

Komentar