Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Cara Membuka Diri terhadap Rasa Ingin Tahu, Kesenangan, dan Rasa Syukur

Cara Membuka Diri terhadap Rasa Ingin Tahu, Kesenangan, dan Rasa Syukur
Setiap emosi membawa motivasi tersendiri. (ilustrasi gambar).

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

Coba tanyakan pada dirimu sendiri: apa yang paling sering kamu rasakan sepanjang hari?

Apakah lebih banyak rasa ingin tahu, kesenangan, kekaguman, dan kasih sayang — atau justru kebosanan, kecemasan, kejengkelan, dan dendam?

Jawabanmu mungkin lebih penting dari yang kamu kira. Karena menurut psikologi, emosi yang paling sering kita rasakan akan menjadi kebiasaan — sebuah kondisi bawaan yang berjalan secara otomatis.

Dua Mode Emosi: Mendekati atau Menghindari

Setiap emosi membawa motivasi tersendiri. Rasa ingin tahu, kesenangan, dan apresiasi mendorongmu untuk mendekati — kamu ingin lebih banyak dari apa yang membuatmu merasa baik.

Sebaliknya, emosi seperti marah, jijik, dan cemas mendorongmu untuk menghindari — kamu ingin menjauh dari sesuatu atau seseorang.

Kedua mode ini tidak bisa berjalan bersamaan. Dan yang paling sering kamu latih, itulah yang akan menjadi respons otomatismu.

Masalahnya: mode menghindari cenderung lebih mudah menang. Ia tidak membutuhkan pikiran yang terbuka atau hati yang lapang.

Sementara itu, untuk bisa benar-benar merasakan kegembiraan dan ketertarikan, kita perlu usaha yang disengaja — bukan sekadar sesekali berhenti dan menikmati momen, tapi menjadikannya bagian dari rutinitas harian.

Emosi adalah Kebiasaan dari Masa Lalu

Saat dewasa, sebagian besar perasaan kita adalah respons terkondisi — kita secara otomatis merasa dengan cara yang sama dalam situasi yang sama.

Lebih dari itu, perasaan saat ini cenderung memanggil kembali memori dari waktu-waktu kita merasakan hal serupa di masa lalu.

Artinya, jika kita tidak aktif mengubahnya, emosi kita akan terus berputar mengulang pola lama — dan kita akan merespons masa kini dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu.

Teknik Sederhana: Validasi dan Deklarasi

Kabar baiknya, ada cara yang bisa dipraktikkan untuk mengubah pola ini. Psikolog Steven Stosny menawarkan formula yang ia sebut Validasi + Deklarasi:

Akui perasaanmu saat ini, lalu nyatakan perasaan yang ingin kamu rasakan.

Beberapa contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari:

  • "Aku merasa bosan... dan aku ingin merasa penasaran." — Pikiran akan mulai memanggil kembali momen-momen ketika kamu benar-benar merasa tertarik dan terlibat penuh.

  • "Aku merasa cemas... dan aku ingin merasa tenang." — Otakmu akan mengakses ingatan saat kamu mampu menghadapi kekhawatiran dengan kepala dingin.

  • "Aku merasa sedih... dan aku ingin merasa bersyukur." — Secara perlahan, fokusmu akan bergeser ke hal-hal yang layak diapresiasi.

Membuka Hati adalah Pilihan yang Bisa Dilatih

Rasa ingin tahu, kesenangan, dan apresiasi tidak datang dengan sendirinya — terutama jika selama ini kita lebih terbiasa dengan kegelisahan atau rutinitas yang mematikan rasa.

Namun itulah justru kabar baiknya: semua ini bisa dilatih. Setiap kali kamu memilih untuk membuka hati dan pikiranmu — sekecil apapun langkahnya — kamu sedang membangun kebiasaan emosional yang baru dan lebih sehat.

Memilih untuk terbuka adalah hadiah terbaik yang bisa kamu berikan kepada dirimu sendiri — dan dampaknya akan terus terasa jauh ke depan.

Sumber Original: .psychologytoday.com

Komentar