Cara Membuka Diri terhadap Rasa Ingin Tahu, Kesenangan, dan Rasa Syukur
JAKARTA - MEDIA POSITIF,
Coba tanyakan pada dirimu sendiri: apa yang paling sering kamu rasakan sepanjang hari?
Apakah lebih banyak rasa ingin tahu, kesenangan, kekaguman, dan kasih sayang — atau justru kebosanan, kecemasan, kejengkelan, dan dendam?
Jawabanmu mungkin lebih penting dari yang kamu kira. Karena menurut psikologi, emosi yang paling sering kita rasakan akan menjadi kebiasaan — sebuah kondisi bawaan yang berjalan secara otomatis.
Dua Mode Emosi: Mendekati atau Menghindari
Setiap emosi membawa motivasi tersendiri. Rasa ingin tahu, kesenangan, dan apresiasi mendorongmu untuk mendekati — kamu ingin lebih banyak dari apa yang membuatmu merasa baik.
Sebaliknya, emosi seperti marah, jijik, dan cemas mendorongmu untuk menghindari — kamu ingin menjauh dari sesuatu atau seseorang.
Kedua mode ini tidak bisa berjalan bersamaan. Dan yang paling sering kamu latih, itulah yang akan menjadi respons otomatismu.
Masalahnya: mode menghindari cenderung lebih mudah menang. Ia tidak membutuhkan pikiran yang terbuka atau hati yang lapang.
Sementara itu, untuk bisa benar-benar merasakan kegembiraan dan ketertarikan, kita perlu usaha yang disengaja — bukan sekadar sesekali berhenti dan menikmati momen, tapi menjadikannya bagian dari rutinitas harian.
Emosi adalah Kebiasaan dari Masa Lalu
Saat dewasa, sebagian besar perasaan kita adalah respons terkondisi — kita secara otomatis merasa dengan cara yang sama dalam situasi yang sama.
Lebih dari itu, perasaan saat ini cenderung memanggil kembali memori dari waktu-waktu kita merasakan hal serupa di masa lalu.
Artinya, jika kita tidak aktif mengubahnya, emosi kita akan terus berputar mengulang pola lama — dan kita akan merespons masa kini dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Teknik Sederhana: Validasi dan Deklarasi
Kabar baiknya, ada cara yang bisa dipraktikkan untuk mengubah pola ini. Psikolog Steven Stosny menawarkan formula yang ia sebut Validasi + Deklarasi:
Akui perasaanmu saat ini, lalu nyatakan perasaan yang ingin kamu rasakan.
Beberapa contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari:
-
"Aku merasa bosan... dan aku ingin merasa penasaran." — Pikiran akan mulai memanggil kembali momen-momen ketika kamu benar-benar merasa tertarik dan terlibat penuh.
-
"Aku merasa cemas... dan aku ingin merasa tenang." — Otakmu akan mengakses ingatan saat kamu mampu menghadapi kekhawatiran dengan kepala dingin.
-
"Aku merasa sedih... dan aku ingin merasa bersyukur." — Secara perlahan, fokusmu akan bergeser ke hal-hal yang layak diapresiasi.
Membuka Hati adalah Pilihan yang Bisa Dilatih
Rasa ingin tahu, kesenangan, dan apresiasi tidak datang dengan sendirinya — terutama jika selama ini kita lebih terbiasa dengan kegelisahan atau rutinitas yang mematikan rasa.
Namun itulah justru kabar baiknya: semua ini bisa dilatih. Setiap kali kamu memilih untuk membuka hati dan pikiranmu — sekecil apapun langkahnya — kamu sedang membangun kebiasaan emosional yang baru dan lebih sehat.
Memilih untuk terbuka adalah hadiah terbaik yang bisa kamu berikan kepada dirimu sendiri — dan dampaknya akan terus terasa jauh ke depan.
Sumber Original: .psychologytoday.com

Komentar