JAKARTA - MEDIA POSITIF, Tekanan ekonomi dan tingginya biaya hidup membuat semakin banyak masyarakat bergantung pada pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat.
Laporan terbaru dari biro kredit TransUnion menunjukkan bahwa saldo pinjaman pribadi tanpa agunan di Amerika Serikat melonjak 10 persen pada 2025 dan mencapai rekor baru sebesar 276 miliar dolar AS, atau sekitar Rp4.500 triliun.
Jumlah masyarakat yang memiliki pinjaman tersebut juga meningkat menjadi 26,4 juta orang.
Menurut TransUnion, banyak konsumen berpenghasilan rendah menggunakan pinjaman pribadi untuk mengatasi kenaikan biaya hidup yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan.
Sementara itu, sebagian lainnya memanfaatkan pinjaman baru untuk melunasi utang kartu kredit yang memiliki bunga lebih tinggi. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan situasi di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin akrab dengan berbagai jenis pinjaman, mulai dari kredit tanpa agunan (KTA), pinjaman online (pinjol), hingga layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater.
Kemudahan akses melalui aplikasi digital membuat masyarakat bisa memperoleh pinjaman hanya dalam hitungan menit.
Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko yang perlu diwaspadai. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, serta pengeluaran rumah tangga yang terus meningkat membuat sebagian masyarakat menjadikan pinjaman sebagai solusi jangka pendek.
Tidak sedikit pula yang mengambil utang baru untuk membayar utang lama, sebuah praktik yang dikenal sebagai gali lubang tutup lubang.
Laporan Reuters juga mencatat bahwa saldo utang kartu kredit di Amerika Serikat naik 4 persen menjadi 1,15 triliun dolar AS.
Di sisi lain, tingkat keterlambatan pembayaran utang mulai meningkat, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pinjaman dapat menjadi ancaman apabila tidak diiringi kemampuan membayar yang memadai.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan penting. Meski pinjaman dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan mendesak, penggunaan yang tidak bijak justru berpotensi memperburuk kondisi keuangan.
Beban cicilan yang terlalu besar dapat mengganggu pengelolaan keuangan rumah tangga dan meningkatkan risiko gagal bayar.
Para perencana keuangan menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati sebelum mengajukan pinjaman.
Salah satu langkah penting adalah memastikan bahwa cicilan utang tidak melebihi kemampuan finansial dan hanya digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak atau produktif.
Kemudian membangun dana darurat juga menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap utang.
Dengan memiliki tabungan yang cukup, masyarakat tidak perlu langsung mencari pinjaman ketika menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan kesehatan mendesak.
TransUnion memperkirakan pertumbuhan kredit di Amerika Serikat akan kembali ke tingkat yang lebih normal setelah mengalami fluktuasi besar sejak pandemi.
Meski demikian, permintaan pinjaman pribadi diperkirakan masih akan tetap tinggi seiring tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat.
Pinjaman memang dapat menjadi solusi keuangan dalam jangka pendek. Namun, tanpa perencanaan yang matang, utang justru dapat berubah menjadi beban berkepanjangan.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, masyarakat perlu semakin bijak dalam mengelola keuangan dan memahami bahwa meminjam uang bukanlah satu-satunya jalan untuk menghadapi tekanan ekonomi.
reuters.com
Komentar