Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
mediapositif.id / Komunitas / Sosial

Mengapa Orang Semakin Jarang Posting di Media Sosial?

Media sosial kini tak lagi menjadi tempat utama untuk berbagi cerita pribadi.
Nabila
×
Nabila
Nabila
Penulis Media Positif
Nabila |
Mengapa Orang Semakin Jarang Posting di Media Sosial?
Media sosial tempat menghabiskan waktu menonton kehidupan orang lain. (Sumber: freepik)

JAKARTA - MEDIA POSITIF,

Media sosial yang dulunya diciptakan sebagai ruang digital untuk berinteraksi dengan teman, kini telah bertransformasi total menjadi platform hiburan massal yang dikendalikan oleh algoritma. 

Tren global menunjukkan adanya pergeseran masif: pengguna tidak lagi aktif membagikan kehidupan pribadi mereka, melainkan menjadi penonton pasif dari konten hiburan yang dibuat oleh orang asing atau kreator profesional. 

Fenomena ini menandai berakhirnya era "sosial" dalam media sosial.

Tren "Hanya Mengonsumsi, Bukan Memproduksi"

Data terbaru dari pengguna di Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat menyingkap penurunan drastis jumlah pengguna yang aktif mengunggah konten. 

Saat ini, hanya 33% pengguna yang masih aktif membuat kiriman baru, sementara 57% lainnya murni menggunakan media sosial untuk sarana hiburan.

Kesenjangan ini terlihat sangat ekstrem pada Generasi Z (Gen Z). Hanya ada 18% dari mereka yang aktif mengunggah konten, berbanding terbalik dengan 74% sisanya yang memilih menjadi konsumen pasif. 

Meski demikian, waktu konsumsi mereka tidak berkurang. Secara global, rata-rata orang menghabiskan 141 menit per hari di media sosial, dan bagi Gen Z di AS, angka ini melonjak hingga 5 jam sehari. Mereka terus menatap layar, namun memilih untuk tetap "bisu".

Mengapa Pengguna Berhenti Berbagi secara Publik?

Vanessa Lalo, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa pengguna kini semakin sadar akan konsekuensi jejak digital yang bersifat permanen. 

Ketakutan akan kritik, perundungan, dan penilaian publik membuat banyak orang enggan berbagi kehidupan pribadi mereka secara terbuka. Selain itu, ada titik jenuh terhadap hubungan daring yang terasa superfisial dan penuh kepura-puraan.

Kalaupun anak muda mengunggah sesuatu di TikTok atau Instagram, kontennya bukan lagi tentang keseharian mereka, melainkan video parodi, meme, atau hasil suntingan kreatif. 

Aktivitas berbagi secara personal kini telah bergeser ke ruang yang lebih intim: aplikasi pesan instan seperti WhatsApp atau grup privat di Snapchat dan Instagram. Di ruang-ruang tertutup ini, mereka merasa lebih aman, autentik, dan bebas dari bombardir iklan.

Dominasi Algoritma dan Personalisasi Televisi

Konsultan media sosial, Matt Navarra, mengamati terjadinya fragmentasi platform. 

Media sosial besar seperti Instagram dan TikTok kini berfokus sepenuhnya pada fungsi hiburan dan penemuan konten baru (discovery), sementara fungsi sosial yang sebenarnya telah berpindah ke WhatsApp.

Perubahan ini didorong oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diterapkan oleh perusahaan raksasa seperti Meta. 

Algoritma rekomendasi kini sengaja membanjiri lini masa dengan konten dari akun-akun yang tidak diikuti oleh pengguna. 

Navarra menegaskan, “Siapa teman Anda atau siapa yang Anda ikuti sekarang sudah tidak relevan lagi bagi platform.” Lini masa dirancang berdasarkan apa yang paling lama memikat mata pengguna, bukan apa yang diunggah oleh lingkaran pertemanan mereka.

Dorongan Komersial dan Iklan massal

Dari sisi bisnis, perubahan ini sangat menguntungkan. Pendapatan iklan media sosial global diproyeksikan mencapai $317 miliar. 

Meta sendiri mencatat pertumbuhan iklan sebesar 22%, berpotensi melampaui raksasa pencari Google. 

Pengguna kini menjumpai iklan di setiap tiga hingga empat kali guliran (scroll). Akibatnya, pemilik bisnis kecil kini dipaksa menjadi kreator konten dan editor video demi bertahan hidup di dalam arus algoritma.

Bagi pengguna biasa seperti Aurelia yang memiliki sedikit pengikut, media sosial terasa asing karena ia hampir tidak pernah lagi melihat unggahan temannya. 

Sementara bagi remaja seperti Kylian (16 tahun) dan Lucie, konten dari konten kreator asing terasa jauh lebih menarik dan menghibur daripada pembaruan status dari orang yang mereka kenal.

Pada akhirnya, media sosial telah berevolusi dari sebuah "alun-alun digital" tempat komunitas saling bertegur sapa, menjadi sebuah "televisi personal" raksasa. 

Di dalamnya, pengguna duduk sebagai penonton yang terhipnotis, sementara platform terus mendulang data dan keuntungan iklan dari setiap detik perhatian yang diberikan.

bbc.com
Dapatkan Buku Digital Pilihan Anda!
di Lynk.id - mediapositif.id
The Power of Your Subconscious Mind
Beli Sekarang
What Color Is Your Parachute?
Beli Sekarang
The Psychology of Money: Ringkasan Praktis
Beli Sekarang
Atomic Habits: Ringkasan Praktis dan Workbook
Beli Sekarang

Komentar

    📢

    Kerja Sama Iklan Segera Hadir!

    Kami sedang menyiapkan halaman khusus untuk Anda yang tertarik beriklan bersama Media Positif. Nantikan kabar baiknya dalam waktu dekat, ya!