Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
mediapositif.id / Kompetensi / Pengembangan Diri

Sedang Menghindar atau Mengejar Tujuan? Kenali Perbedaannya

AN
RO
×
AN
AN
Penulis Media Positif
RO
AN , Robert Taibbi L.C.S.W. |
Sedang Menghindar atau Mengejar Tujuan? Kenali Perbedaannya
Keinginan untuk pergi belum tentu berarti menyerah
IklanBuka rekening Krom, dapat bonus hingga Rp150.000

JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Dalam hidup, ada kalanya kamu ingin segera meninggalkan situasi yang membuat tidak nyaman. Kamu mungkin ingin resign dari pekerjaan, mengakhiri hubungan, atau memulai kehidupan baru. 

Namun, pernahkah kamu berhenti sejenak untuk bertanya: apakah keputusan itu diambil karena ingin menjauh dari masalah atau karena benar-benar ingin menuju sesuatu yang lebih baik?

Keduanya bisa menjadi alasan yang masuk akal. Meninggalkan situasi yang tidak sehat dapat menjadi langkah penting untuk menjaga diri. Di sisi lain, mengejar kesempatan baru juga bisa membuka jalan menuju perkembangan diri. 

Meski begitu, keputusan yang diambil tanpa memahami alasan di baliknya berisiko membuat kamu menghadapi masalah serupa di kemudian hari.

Apa Bedanya Menghindari dan Mengejar Sesuatu?

Dalam mengambil keputusan besar, ada dua dorongan yang sering muncul, yaitu keinginan untuk menjauh dari sesuatu dan keinginan untuk mendekati sesuatu yang dianggap lebih baik.

1. Mengambil Keputusan untuk Menjauh dari Masalah

Kamu mungkin memilih meninggalkan pekerjaan karena lingkungan yang tidak sehat, beban kerja berlebihan, atau hubungan dengan atasan yang terus membuat stres. Dalam hubungan pribadi, kamu juga bisa memutuskan pergi ketika merasa tidak dihargai atau mengalami perlakuan yang menyakitkan.

Keputusan untuk menjauh tidak selalu berarti kamu menyerah. Justru, jika selama ini kamu terbiasa bertahan dalam situasi yang merugikan, keberanian untuk pergi bisa menjadi bentuk ketegasan dalam menjaga batasan diri.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Keinginan untuk pergi terkadang muncul karena kamu ingin menghindari percakapan sulit, konflik, atau perasaan tidak nyaman. Jika pola ini terus berulang, masalah yang sebenarnya belum terselesaikan bisa kembali muncul dalam situasi berbeda.

2. Mengambil Keputusan untuk Mengejar Peluang Baru

Sebaliknya, kamu mungkin ingin pindah pekerjaan karena menemukan bidang yang lebih sesuai dengan minat, memulai hubungan baru yang terasa menjanjikan, atau mencoba tantangan yang selama ini kamu impikan.

Dorongan ini bisa membantu kamu berkembang karena membuatmu berani keluar dari zona nyaman. Kamu tidak hanya berfokus pada hal yang ingin ditinggalkan, tetapi juga memikirkan kehidupan yang ingin dibangun.

Meski begitu, terlalu bersemangat mengejar sesuatu yang baru juga memiliki risiko. Kamu bisa terburu-buru mengambil keputusan karena tergoda oleh sesuatu yang terlihat menarik, tanpa mempertimbangkan konsekuensi dan tantangan yang menyertainya.

Misalnya, kamu menerima tawaran pekerjaan baru hanya karena ingin segera keluar dari kantor lama. Setelah beberapa bulan, kamu baru menyadari bahwa pekerjaan tersebut ternyata memiliki masalah yang tidak jauh berbeda.

Bagaimana Mengetahui Alasan di Balik Keputusanmu?

Tidak semua keputusan untuk pergi merupakan bentuk penghindaran. Begitu pula, tidak semua keputusan untuk mencoba hal baru didasari pertimbangan yang matang. Karena itu, kamu perlu memahami apa yang sebenarnya mendorong pilihanmu.

1. Beri Waktu untuk Memikirkan Masalah yang Ada

Sebelum mengambil keputusan besar, cobalah berhenti sejenak dan lihat situasinya dengan lebih jernih. Apa yang sebenarnya membuatmu tidak nyaman? Apakah ada masalah yang masih bisa diperbaiki melalui komunikasi, perubahan kebiasaan, atau penyesuaian batasan?

Kamu tidak harus menyelesaikan semua masalah sekaligus. Fokuslah pada satu atau dua hal utama yang paling memengaruhi keadaanmu. Jika masalah tersebut masih bisa diperbaiki, pertimbangkan langkah konkret yang dapat dilakukan.

Namun, jika kamu menghadapi kekerasan, ancaman, atau situasi yang membahayakan keselamatan, meninggalkan keadaan tersebut dan mencari bantuan perlu menjadi prioritas. Kamu tidak harus bertahan demi menyelesaikan masalah terlebih dahulu.

2. Bayangkan Hasil yang Benar-Benar Kamu Inginkan

Selain memikirkan hal yang ingin dihindari, tanyakan juga kehidupan seperti apa yang ingin kamu bangun.

Jika ingin pindah pekerjaan, misalnya, jangan hanya berfokus pada atasan yang menyulitkan atau beban kerja yang melelahkan. Pikirkan juga lingkungan kerja, pola komunikasi, dan keseimbangan hidup yang kamu butuhkan.

Dengan mengetahui tujuan tersebut, kamu bisa membuat keputusan yang lebih terarah. Kamu pun memiliki pertimbangan yang lebih jelas saat menilai apakah kesempatan baru benar-benar sesuai dengan kebutuhanmu.

3. Jangan Terburu-buru Mengambil Keputusan

Perasaan lega saat membayangkan meninggalkan masalah atau antusiasme ketika menemukan peluang baru dapat memengaruhi penilaianmu. Karena itu, jika situasinya memungkinkan, beri waktu untuk mempertimbangkan pilihan yang tersedia.

Coba tuliskan keuntungan, risiko, dan konsekuensi dari setiap pilihan. Pertimbangkan pula apa yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan, bukan hanya bagaimana perasaanmu saat ini.

Langkah ini bukan berarti kamu harus terus menunda keputusan. Tujuannya adalah memastikan bahwa pilihanmu tidak hanya menjadi reaksi sesaat terhadap emosi yang sedang dirasakan.

Jika Memutuskan Pergi, Ambil Pelajaran dari Pengalaman

Ada kalanya kamu sudah mempertimbangkan berbagai pilihan dan tetap merasa bahwa pergi adalah keputusan terbaik. Jika demikian, kamu bisa mencoba menutup situasi tersebut dengan baik, selama hal itu aman dan memungkinkan.

Dalam konteks pekerjaan, misalnya, kamu dapat menyelesaikan tanggung jawab yang masih ada, berpamitan kepada rekan kerja, atau mengevaluasi hal-hal yang ingin kamu cari di tempat kerja berikutnya. Dalam hubungan pribadi, kamu bisa merefleksikan pengalaman tanpa harus menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang terjadi.

Setelah itu, pikirkan apa yang bisa kamu pelajari. Apakah kamu perlu lebih berani menyampaikan kebutuhan? Apakah ada tanda-tanda masalah yang sebelumnya kamu abaikan? Atau, apakah kamu perlu menetapkan batasan yang lebih jelas sejak awal?

Tujuannya bukan mencari kesalahan diri sendiri, melainkan mengenali pola yang bisa diperbaiki agar kamu tidak terus menghadapi situasi serupa.

>> Baca juga: 7 Tips untuk Kamu Menemukan Tujuan Hidup

Tidak Semua Keputusan Harus tentang Bertahan atau Pergi

Pada akhirnya, keputusan yang baik bukan sekadar tentang menjauh dari sesuatu yang tidak disukai atau mengejar hal yang terlihat menarik. Keduanya perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan, tujuan, dan kondisi diri.

Kamu boleh meninggalkan sesuatu yang tidak lagi sehat untukmu. Kamu juga boleh mengambil kesempatan baru meski masih ada rasa takut. Yang terpenting, cobalah memahami alasan di balik pilihan tersebut dan mempertimbangkan konsekuensinya dengan matang.

Dengan begitu, keputusan yang kamu ambil bukan hanya membantu kamu keluar dari situasi saat ini, tetapi juga mendekatkanmu pada kehidupan yang memang ingin kamu jalani.

Are You Running From or Running Toward?
Dapatkan Buku Digital Pilihan Anda!
di Lynk.id - mediapositif.id
The Power of Your Subconscious Mind
Beli Sekarang
What Color Is Your Parachute?
Beli Sekarang
The Psychology of Money: Ringkasan Praktis
Beli Sekarang
Atomic Habits: Ringkasan Praktis dan Workbook
Beli Sekarang

Komentar

    📢

    Kerja Sama Iklan Segera Hadir!

    Kami sedang menyiapkan halaman khusus untuk Anda yang tertarik beriklan bersama Media Positif. Nantikan kabar baiknya dalam waktu dekat, ya!