JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Ada kalanya masalah kecil terasa begitu mengganggu. Pesan yang tidak kunjung dibalas, rencana yang berantakan, kritik dari orang lain, atau kabar yang tidak sesuai harapan bisa membuat kamu langsung cemas, marah, sedih, atau ingin menghindar.
Kemampuan untuk tetap menghadapi perasaan tersebut tanpa langsung bereaksi secara impulsif disebut distress tolerance.
Distress tolerance adalah kemampuan untuk menghadapi dan mengelola emosi negatif atau situasi yang membuat tidak nyaman. Kemampuan ini bukan berarti kamu harus selalu tenang atau tidak boleh merasa sedih, marah, dan takut. Justru, kamu belajar menyadari bahwa emosi yang terasa berat tetap bisa dilewati tanpa harus melakukan sesuatu yang justru membuat keadaan semakin buruk.
Apa Itu Distress Tolerance?
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Ada yang bisa tetap berpikir jernih ketika menghadapi masalah, sementara yang lain mungkin lebih mudah panik, marah, atau merasa kewalahan.
Kemampuan ini tidak sepenuhnya bersifat bawaan. Cara seseorang menghadapi masalah juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan pola yang dipelajari sejak kecil. Karena itu, distress tolerance juga dapat dilatih dan diperkuat seiring waktu.
Misalnya, ketika kamu mendapat kritik dari atasan, kamu mungkin langsung merasa tidak cukup baik. Reaksi spontan bisa berupa membalas dengan defensif, menangis, atau justru ingin menghindari pekerjaan.
Dengan distress tolerance yang lebih baik, kamu tetap bisa merasa tidak nyaman, tetapi memberi diri sendiri waktu untuk memahami perasaan tersebut sebelum menentukan respons.
Mengapa Distress Tolerance Penting?
Emosi negatif merupakan bagian dari kehidupan. Masalah muncul ketika kamu terus-menerus berusaha menghindari, menekan, atau membuat diri mati rasa terhadap perasaan tersebut.
Menghindari emosi bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti terus-menerus mencari hiburan agar tidak memikirkan masalah, makan berlebihan ketika stres, berbelanja secara impulsif, atau melakukan aktivitas tertentu hanya untuk mengalihkan perasaan. Jika menjadi kebiasaan, cara tersebut dapat membuat kamu semakin sulit menghadapi emosi yang tidak nyaman.
Sebaliknya, ketika kamu memberi kesempatan pada diri sendiri untuk merasakan dan memahami emosi, kamu bisa belajar bahwa perasaan yang sangat kuat tidak selalu bertahan selamanya. Intensitasnya dapat meningkat, kemudian perlahan menurun.
Pengalaman tersebut dapat membantu membangun kepercayaan diri dan ketahanan mental karena kamu memiliki bukti bahwa kamu mampu melewati masa sulit.
Cara Melatih Distress Tolerance dalam Kehidupan Sehari-hari
Kemampuan menghadapi emosi tidak harus dilatih melalui situasi besar. Kamu bisa memulainya ketika menghadapi berbagai ketidaknyamanan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
1. Kenali Apa yang Sedang Kamu Rasakan
Ketika emosi muncul, jangan langsung berusaha menghilangkannya. Berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri, “Aku sebenarnya sedang merasa apa?”
Apakah kamu marah, kecewa, takut, sedih, malu, atau justru merasa kewalahan?
Mengenali emosi membuat kamu lebih mudah memahami apa yang sedang terjadi sehingga tidak langsung bereaksi berdasarkan dorongan sesaat.
2. Beri Ruang untuk Emosi
Setelah mengenali perasaan, coba bertahan sejenak tanpa langsung menghindarinya. Kamu tidak harus menyukai emosi tersebut. Cukup sadari bahwa perasaan itu sedang ada.
Misalnya, kamu sedang sangat kesal karena seseorang membatalkan rencana. Daripada langsung mengirim pesan dengan nada marah, beri diri sendiri waktu untuk merasakan kecewa dan menenangkan pikiran terlebih dahulu.
Tujuannya bukan menekan emosi, melainkan memberi jarak antara perasaan dan tindakan.
3. Atur Napas dan Kembali ke Saat Ini
Ketika emosi terasa semakin kuat, fokuskan perhatian pada napas. Tarik napas secara perlahan dan perhatikan sensasi tubuh.
Kamu juga bisa menggunakan teknik grounding dengan memperhatikan apa yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dicium, atau dirasakan di sekitar. Cara ini dapat membantu perhatian kembali ke saat ini ketika pikiran sedang dipenuhi kekhawatiran.
4. Perhatikan Respons Tubuh
Emosi tidak hanya muncul dalam pikiran, tetapi juga dapat terasa secara fisik. Saat marah, misalnya, jantung bisa berdebar dan tubuh terasa panas. Ketika takut, kamu mungkin mengalami napas lebih pendek, berkeringat, gemetar, atau merasa mual.
Menyadari perubahan tersebut dapat membantu kamu mengenali bahwa tubuh sedang merespons tekanan. Dengan begitu, kamu bisa mengambil jeda sebelum memberikan respons.
5. Amati Pikiran yang Memperburuk Situasi
Saat sedang tertekan, pikiran negatif bisa ikut memperkuat emosi. Kamu mungkin berpikir, “Semuanya pasti gagal,” “Aku tidak akan sanggup,” atau “Masalah ini tidak akan pernah selesai.”
Cobalah memeriksa kembali pikiran tersebut. Apakah benar sepenuhnya? Adakah kemungkinan lain yang lebih realistis?
Mengganti pikiran yang terlalu ekstrem dengan pemikiran yang lebih seimbang dapat membantu kamu menghadapi situasi dengan lebih tenang.
6. Ingat bahwa Emosi Akan Berubah
Salah satu bagian penting dari distress tolerance adalah memahami bahwa emosi tidak selalu berada pada intensitas yang sama.
Rasa marah yang sangat kuat sekarang mungkin akan berkurang beberapa waktu kemudian. Begitu juga dengan rasa takut, sedih, atau cemas. Ketika kamu berhasil melewati gelombang emosi tanpa melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, kamu mendapatkan pengalaman bahwa kamu mampu menghadapi ketidaknyamanan tersebut.
>> Baca juga: 6 Emosi Dasar Manusia dan Cara Emosi Memengaruhi Perilaku
Distress Tolerance Bukan Berarti Menahan Semua Emosi
Memiliki distress tolerance yang baik bukan berarti kamu harus selalu kuat, tidak menangis, atau menerima semua keadaan tanpa melakukan apa-apa.
Sebaliknya, kemampuan ini membantumu memberi ruang pada emosi sebelum menentukan apa yang perlu dilakukan. Kamu tetap boleh mencari solusi, menetapkan batasan, meminta bantuan, atau meninggalkan situasi yang tidak sehat.
Intinya, kamu belajar bahwa merasa tidak nyaman tidak selalu berarti kamu harus segera bertindak. Terkadang, memberi diri sendiri waktu untuk merasakan, memahami, dan menunggu emosi mereda adalah langkah pertama agar kamu bisa merespons masalah dengan lebih bijak.
Dengan latihan yang konsisten, kemampuan menghadapi emosi yang sulit dapat semakin kuat. Kamu mungkin tidak bisa menghilangkan hari-hari buruk, tetapi kamu bisa membangun keyakinan bahwa kamu mampu melewatinya.
Understanding and Strengthening Distress Tolerance

Komentar