JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Pernah nggak kamu mengatakan, “Aku nggak bisa,” saat menghadapi tugas atau situasi yang terasa sulit?
Terkadang, kita mengucapkan kalimat itu karena memang ada kendala yang nyata. Namun, ada juga saat ketika kita sebenarnya masih punya pilihan, tetapi merasa takut, ragu, atau belum siap menghadapi konsekuensinya.
Dalam situasi seperti ini, memperhatikan kata-kata yang kita gunakan bisa membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Bukan berarti semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan mengubah kalimat, tetapi cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat memengaruhi cara kita melihat pilihan yang tersedia.
Ketika “Aku Tidak Bisa” Membuat Kita Berhenti Mencoba
Kalimat seperti “Aku nggak bisa istirahat dengan tenang” atau “Aku nggak bisa bicara saat rapat” terkadang terdengar seperti sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa diubah.
Padahal, ada baiknya kita mencari tahu apa yang membuat situasi tersebut terasa sulit. Apakah kita takut dinilai orang lain? Khawatir membuat kesalahan? Atau merasa belum cukup percaya diri untuk mencoba?
Dalam beberapa situasi, mengganti kalimat “Aku nggak bisa” menjadi “Aku nggak mau” dapat membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Misalnya, ketika merasa tidak bisa menolak pekerjaan tambahan, kita bisa bertanya kepada diri sendiri: apakah kita memang tidak punya pilihan, atau sebenarnya takut mengecewakan orang lain jika mengatakan tidak?
Pertanyaan seperti ini membantu kita mengenali alasan di balik keputusan yang diambil. Kita pun bisa mulai mempertimbangkan pilihan lain, seperti menyampaikan keberatan, meminta waktu tambahan, atau menetapkan batasan.
Namun, bukan berarti setiap kali mengatakan “Aku nggak bisa”, kita sebenarnya hanya tidak mau mencoba. Ada situasi ketika keterbatasan waktu, kondisi kesehatan, atau tanggung jawab lain memang membuat sesuatu sulit dilakukan.
Yang terpenting adalah memahami situasinya sebelum menyimpulkan bahwa tidak ada pilihan lain.
Mengapa “Aku Akan Mencoba” Perlu Diikuti Tindakan?
Mengatakan “Aku akan mencoba” bukanlah sesuatu yang salah. Justru, kalimat ini bisa menjadi langkah awal ketika kita belum yakin dengan kemampuan diri sendiri.
Namun, jika terus berhenti pada kata mencoba tanpa menentukan tindakan yang jelas, kita bisa kesulitan memulai atau menyelesaikan sesuatu.
Misalnya, kalimat “Aku akan mencoba mencari waktu untuk berdiskusi” masih menyisakan banyak ketidakpastian. Sebaliknya, “Aku akan menghubunginya besok untuk menentukan waktu diskusi” memberikan gambaran yang lebih jelas tentang langkah berikutnya.
Perbedaannya bukan terletak pada kata-kata semata, melainkan pada kejelasan niat dan tindakan yang menyertainya.
Kita tidak harus selalu yakin bahwa semuanya akan berhasil sebelum memulai. Cukup tentukan apa yang ingin dilakukan, langkah pertama yang bisa diambil, dan kapan langkah tersebut akan dilakukan.
Dengan begitu, niat tidak hanya berhenti sebagai rencana, tetapi punya peluang lebih besar untuk diwujudkan.
Membedakan Kendala Nyata dan Rasa Takut
Mengubah cara berbicara kepada diri sendiri bukan berarti kita harus memaksakan diri melakukan segala hal. Ada keadaan yang memang tidak bisa kita kendalikan, seperti kondisi kesehatan, keterbatasan waktu, atau tanggung jawab merawat anggota keluarga.
Mengakui keterbatasan tersebut bukan berarti kita menyerah. Justru, memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan membantu kita menentukan langkah yang lebih realistis.
Ketika menghadapi sesuatu yang terasa sulit, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
-
Apa yang sebenarnya menghalangiku melakukan hal ini?
-
Apakah ada kendala nyata yang perlu dipertimbangkan?
-
Jika rasa takut menjadi salah satu hambatannya, apa yang bisa kulakukan untuk menghadapinya?
-
Apakah hal ini memang perlu kulakukan, atau aku bisa memilih untuk tidak melakukannya?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa membantu kita melihat situasi dengan lebih jernih. Jika ada kendala yang tidak bisa diubah, kita bisa mencari alternatif tanpa terus menyalahkan diri sendiri. Jika ada rasa takut yang masih bisa dihadapi, kita dapat menentukan langkah kecil untuk mulai bergerak.
Memiliki kendali atas hidup bukan berarti kita harus selalu bertindak atau mengatakan iya pada setiap kesempatan. Terkadang, kendali justru terlihat ketika kita berani mengakui keterbatasan, menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan, atau memilih untuk tidak mengambil tanggung jawab tambahan.
Mulai sekarang, cobalah lebih memperhatikan cara kamu berbicara kepada diri sendiri. Bukan untuk menyalahkan setiap kata yang terucap, melainkan untuk memahami apa yang ada di baliknya.
Sebab, ketika kita lebih jujur mengenali alasan, kebutuhan, dan batasan diri, kita bisa mengambil keputusan dengan lebih sadar dan menentukan langkah yang sesuai dengan keadaan kita.
psychologytoday.com

Komentar