JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Pernahkah kamu mengalami suasana hati yang buruk sepanjang hari hanya karena satu kejadian? Misalnya, pagi hari kamu mendapat komentar yang menyebalkan, lalu rasa kesal itu terus terbawa hingga siang, sore, bahkan malam. Kamu mungkin sudah mencoba mengalihkan perhatian, tetapi perasaan tersebut seperti sulit dilepaskan.
Kondisi ini bisa berkaitan dengan emotional inertia atau inersia emosional.
Apa Itu Emotional Inertia?
Emosi pada dasarnya bisa berubah sesuai dengan situasi yang kamu alami. Kamu mungkin merasa kesal setelah menghadapi masalah, lalu perlahan merasa lebih tenang setelah berbicara dengan seseorang atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Namun, pada orang yang mengalami emotional inertia, perubahan emosi tersebut bisa terasa lebih sulit terjadi. Seseorang dapat terus merasa marah, sedih, cemas, atau kecewa meskipun situasi yang memicu emosi itu sudah berlalu.
Kondisi ini tidak hanya terjadi dalam hitungan jam. Pada beberapa orang, pola emosi tertentu bahkan dapat terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun seseorang juga bisa sulit melepaskan emosi positif, seperti perasaan jatuh cinta atau bahagia, emotional inertia lebih sering dikaitkan dengan emosi negatif.
Mengapa Kamu Sulit Melepaskan Perasaan Tertentu?
Ada beberapa hal yang dapat membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam satu emosi. Salah satunya adalah pengalaman traumatis di masa lalu.
Pengalaman yang menyakitkan dapat membuat otak lebih waspada terhadap kemungkinan bahaya. Akibatnya, kamu mungkin lebih mudah merasa terancam, tersinggung, atau cemas ketika menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman tersebut.
Selain itu, kelelahan juga dapat membuatmu lebih sulit mengatur emosi. Saat tubuh dan pikiran lelah, kemampuan untuk berpikir secara fleksibel dapat menurun. Masalah kecil yang biasanya bisa kamu hadapi dengan tenang pun mungkin terasa jauh lebih berat.
Emotional inertia juga dapat berkaitan dengan kerentanan terhadap depresi. Ketika emosi negatif terus bertahan dan sulit berubah, seseorang bisa semakin sulit melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam hubungan, kondisi ini juga dapat menimbulkan masalah. Seseorang yang terlalu terjebak dalam emosinya mungkin menjadi kurang mampu memperhatikan atau merespons perasaan pasangannya. Akibatnya, kualitas hubungan dapat terganggu.
Cara Melepaskan Emosi yang Sulit Hilang
Melepaskan emosi bukan berarti kamu harus menekan atau berpura-pura tidak merasakan apa pun. Justru, langkah pertama adalah menyadari dan memahami apa yang sedang kamu rasakan.
Berikut beberapa cara yang dapat membantu.
1. Kenali Pola Emosi Kamu
Coba luangkan waktu beberapa kali dalam sehari untuk memperhatikan kondisi tubuh dan pikiranmu. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang sedang aku rasakan?” atau “Apa yang sebenarnya membuatku masih kesal?”
Kamu juga bisa menuliskan emosi yang muncul. Misalnya, mencatat kapan kamu merasa marah, apa pemicunya, dan berapa lama perasaan tersebut bertahan.
Cara sederhana ini dapat membantumu mengenali pola emosi yang selama ini mungkin tidak kamu sadari.
2. Ingat Bahwa Setiap Momen Bisa Berbeda
Ketika kamu sedang terjebak dalam emosi tertentu, kamu mungkin merasa seolah-olah perasaan tersebut akan bertahan sepanjang hari. Padahal, satu kejadian buruk tidak harus menentukan suasana hati kamu selama berjam-jam.
Coba bagi harimu menjadi beberapa bagian kecil. Misalnya, anggap setiap 15 menit sebagai kesempatan baru untuk memulai kembali.
Jika pukul 09.00 kamu mengalami kejadian yang membuat kesal, bukan berarti pukul 10.00 kamu harus tetap membawa perasaan yang sama. Kamu bisa mencoba berhenti sejenak, menarik napas, lalu mengarahkan perhatian pada apa yang sedang terjadi saat ini.
3. Alihkan Perhatian ke Lingkungan Sekitar
Saat terlalu fokus pada emosi, pikiranmu bisa terus berputar pada masalah yang sama. Untuk membantu keluar dari lingkaran tersebut, cobalah melibatkan seluruh indra.
Perhatikan suara di sekitarmu, aroma yang kamu cium, makanan yang sedang kamu makan, atau pemandangan yang ada di depan mata. Kamu juga bisa mencoba berjalan kaki sebentar sambil benar-benar memperhatikan lingkungan sekitar.
Cara ini dapat membantumu kembali hadir pada saat ini, bukan terus-menerus tenggelam dalam pikiran atau perasaan yang sama.
4. Tentukan Waktu Khusus untuk Memikirkan Masalah
Kadang, kamu memang perlu memikirkan masalah yang sedang dihadapi. Namun, memikirkannya sepanjang hari biasanya tidak membuat masalah tersebut lebih cepat selesai.
Jika ada hal yang terus mengganggu pikiranmu saat bekerja atau beraktivitas, coba tentukan waktu khusus untuk memikirkannya. Misalnya, kamu memberi waktu 30 menit pada malam hari untuk mencari solusi atau mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Dengan begitu, kamu tidak harus terus membawa beban pikiran tersebut ke setiap aktivitas.
>> Baca juga: Pernah Menangis dan Tak Bisa Dihentikan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
5. Buat "Ritual" untuk Melepas Emosi yang Berat
Kamu juga bisa membuat jeda di antara satu aktivitas dan aktivitas lainnya. Misalnya, setelah pulang kerja, kamu bisa mendengarkan musik selama perjalanan, membaca buku, mandi, atau sekadar duduk sendiri selama beberapa menit sebelum kembali menjalani aktivitas berikutnya.
Kebiasaan sederhana ini bisa membantu memberi ruang untuk beristirahat dan melepaskan sedikit beban dari aktivitas sebelumnya.
Kamu tidak harus langsung merasa bahagia atau benar-benar melupakan apa yang terjadi. Setidaknya, kamu bisa belajar memberi jarak agar tekanan dari satu situasi tidak terus terbawa ke aktivitas berikutnya.
Namun, ada kalanya emosi yang sulit dilepaskan berkaitan dengan pengalaman yang lebih dalam. Jika kamu terus merasa terjebak dalam kesedihan, kemarahan, kecemasan, atau emosi lain hingga mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.
Psikolog atau tenaga profesional dapat membantumu memahami pola emosi, mengenali pemicunya, dan menemukan cara yang lebih sehat untuk mengelolanya.
Overcoming Emotional Inertia: How to Let Go of a Feeling

Komentar