JAKARTA - MEDIA POSITIF, Banyak orang mengira sering mengucapkan kata “maaf” adalah bentuk kesopanan atau kedewasaan.
Padahal, para psikolog menilai kebiasaan ini sering kali muncul dari rasa cemas, takut dianggap menyusahkan, atau rasa ragu pada diri sendiri, bukan sekadar kepedulian pada orang lain.
Solusinya bukan sekadar berhenti meminta maaf, melainkan mengganti kata tersebut dengan ungkapan yang lebih positif tanpa merendahkan diri sendiri. Berikut tiga kebiasaan yang disarankan oleh para ahli:
1. Ubah "Maaf" Menjadi Rasa Terima Kasih
Cara paling mudah untuk mengubah kebiasaan ini adalah mengganti permintaan maaf dengan ungkapan rasa syukur. Saat kamu refleks ingin bilang “Maaf ya aku terlambat,” cobalah ubah menjadi “Terima kasih ya sudah mau menunggu.”
Begitu juga saat kamu hendak bilang “Maaf ya sudah curhat dan bikin pusing,” lebih baik gantilah dengan “Terima kasih ya sudah mau mendengarkan.”
Penelitian menunjukkan bahwa mengutarakan rasa terima kasih membuat hubungan terasa lebih hangat dan dekat dibanding terus-menerus meminta maaf atas kesalahan kecil.
2. Berhenti Sejenak dan Evaluasi Situasi
Sebelum refleks mengucapkan “maaf”, ambillah waktu untuk bertanya pada diri sendiri “Apakah saya benar-benar melakukan kesalahan, atau saya hanya merasa tidak nyaman dengan suasana yang tenang atau respons netral orang lain?”
Orang yang sering meminta maaf cenderung merasa panik saat menghadapi respons singkat atau keheningan, lalu berasumsi bahwa mereka telah melakukan kesalahan.
Kebiasaan meremehkan atau membungkam kebutuhan diri demi menjaga perasaan orang lain ini sering kali dipicu oleh rasa kurang aman dalam suatu hubungan.
Berhenti sejenak membantu menenangkan pikiran agar kamu tidak menyalahkan diri sendiri secara otomatis.
3. Sampaikan Maksud Kamu Secara Langsung
Sering kali permintaan maaf digunakan sebagai pemanis saat ingin meminta bantuan. Kamu bisa membiasakan diri untuk langsung menyampaikan tujuan tanpa diawali permintaan maaf.
Alih-alih mengucapkan kalimat tidak langsung seperti “Maaf mengganggu, tapi bisakah kamu bantu aku sebentar?”, kamu bisa menyampaikannya secara langsung dengan bertanya “Bisa tidak kamu bantu aku sebentar?”.
Dengan menghilangkan kata “maaf”, kamu tetap sopan tanpa mengesankan bahwa meminta bantuan adalah tindakan yang bersalah atau memberatkan orang lain.
Bicara secara lugas dan jelas justru membuat kamu terlihat lebih percaya diri dan kredibel.
Menghentikan kebiasaan terlalu sering meminta maaf bukan berarti kamu menjadi pribadi yang dingin atau sombong.
Ini adalah bentuk belajar untuk bersikap ramah dan menghargai orang lain, tanpa harus selalu berasumsi bahwa keberadaan atau kebutuhan kamu adalah suatu kesalahan.
psychologytoday.com
Komentar