JAKARTA - MEDIA POSITIF, Kita semua pasti pernah menyaksikannya di tempat kerja. Penurunan ekonomi yang memicu PHK, akuisisi perusahaan yang membawa restrukturisasi besar-besaran, atau hadirnya atasan baru dengan kebijakan yang sangat bertolak belakang.
Apa pun pemicunya, suasana kerja yang kurang ideal kerap tidak terhindarkan. Masalah utamanya, moral kerja yang rendah itu ibarat viru, ia menyebar dengan cepat dan sangat sulit dikendalikan begitu sudah terlanjur mengakar.
Ketika semangat kerja anjlok, dorongan karyawan untuk memberikan performa terbaik pun ikut merosot.
Produktivitas menurun, menciptakan lingkaran berupa rasa tidak puas yang berujung pada hasil kerja yang buruk. Lalu, bagaimana kamu sebagai pemimpin bisa membalikkan keadaan ini?
Perbedaan Tantangan Teknis dan Tantangan Adaptif
Kesalahan paling umum yang sering dilakukan para pemimpin adalah menganggap masalah moral sebagai tantangan teknis semata.
Tantangan teknis adalah masalah yang sudah ada rumus solusinya, seperti memperbaiki proses kerja yang rusak atau memperbarui sistem.
Rendahnya moral kerja akibat ketidakpastian atau perubahan organisasi sebenarnya adalah tantangan adaptif.
Masalah jenis ini tidak punya solusi instan dan membutuhkan pendekatan baru, sudut pandang berbeda, serta keterlibatan banyak pihak. Tidak ada kebijakan atau aturan baru yang bisa mengembalikan moral tim dalam sekejap mata.
Langkah Praktis untuk Menghadapi Situasi Ini
Peneliti Ronald Heifetz dari Harvard memberikan beberapa panduan yang bisa kamu terapkan saat menghadapi situasi sulit ini.
Pertama, luangkan waktu untuk mengambil waktu dan mundur sejenak. Tahan keinginan untuk langsung mengambil tindakan terburu-buru.
Coba beralih dari “lantai dansa” ke “balkon”. Di lantai dansa, kamu berada di tengah keramaian aksi. Namun dengan naik ke balkon, kamu bisa melihat gambaran besar dan dinamika pendorong masalah dari sudut pandang yang lebih tinggi.
Setelah memahami situasinya dengan jernih, barulah kamu turun kembali untuk mengambil keputusan.
Kedua, berdayakan anggota timmu. Solusi terbaik untuk tantangan adaptif sering kali datang dari orang-orang yang mengalaminya setiap hari.
Ciptakan ruang aman (psychological safety) agar karyawan merasa nyaman menyampaikan pandangan mereka. Karyawan lini depan biasanya paling paham celah masalah dan perubahan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Ketiga, nikmati ketidaknyamanan dalam masa transisi. Menganalisis masalah memang terasa tidak menyenangkan, tetapi jangan terburu-buru memberikan penutup luka sebelum akar masalahnya terdiagnosa dengan benar.
Pemimpin yang bijak mampu menyeimbangkan tekanan, tidak terlalu tinggi hingga memicu rasa takut dan panik, tetapi juga tidak terlalu rendah agar dorongan untuk berubah tetap ada.
Meningkatkan moral kerja yang rendah bukanlah tugas yang mudah dan tidak memiliki solusi tunggal yang berlaku untuk semua situasi.
Pemimpin yang efektif tidak mencoba menyelesaikan masalah adaptif dengan solusi teknis semata.
Mereka berani mengambil jeda untuk melihat gambaran besar, berbicara langsung dengan orang-orang yang terlibat, serta mendengarkan masukan dari berbagai sudut pandang.
Dengan membangun budaya kebersamaan dan rasa aman di mana setiap orang bebas bersuara, kamu memberikan kesempatan terbaik bagi timmu untuk bangkit dan sukses bersama.
psychologytoday.com
Komentar